Sejarah Qurban Pertama Kali Telah ada Sejak Zaman Nabi Adam AS

Pertama dalam Sejarah Manusia! Qurban pada zaman Nabi Adam AS.

Qurban dalam bahasa arab memiliki makna mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu dengan cara menyembelih hewan atau binatang ternak untuk menunjukan Ketakwaan kepada Allah SWT yang dilaksanakan pada bulan dzulhijjah tanggal 10 dan 3 hari tasyrik yakni 11, 12, dan 13.


Namun tahukah kamu kalau kurban telah dilakukan sejak zaman putra Nabi Adam yaitu Qabil dan Habil? hal ini diceritakan didalam Al Qur’an surat Al Ma’idah ayat 27-32.


Al-Ma'idah 5:27


وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ 


“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”


Setiap kali istri Nabi Adam melahirkan, selalu dikaruniai dua orang anak yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, dan terlahirlah putra Nabi Adam yang bernama Qabil dan Habil, keduanya tidak terlahir dalam satu kandungan melainkan memiliki saudara perempuannya masing masing.


Setelah beranjak dewasa Qabil ahli dalam bercocok tanam, sedangkan Habil adalah seorang peternak, Qabil secara usia lebih tua daripada Habil, dia memiliki saudara yang lebih cantik daripada Habil. 


Nabi Adam senantiasa mengawinkan anak lelakinya dengan anak perempuan yang tidak seperut dengan kembarannya. sehingga Qabil tidak mau jika saudaranya dinikahi oleh Habil karena saudara Habil tidak secantik saudaranya.

lalu kemudian Nabi Adam menyuruh keduanya untuk berkurban, Qabil yang seorang petani mengorbankan gandum hasil pertaniannya, sedangkan Habil mengorbankan kambing dari peternakannya.

Habil mengurbankan kambing terbaik dengan penuh keikhlasan dan takwa kepada Allah SWT, sedangkan Qabil tidak ikhlas memberikan hasil pertaniannya bahkan dikurbankan hasil pertanian yang paling jelek.


Sebagai tanda dari kurban yang diterima, turunlah Api yang menyambar dari langit kepada kambing yang dikurbankan oleh Habil, menunjukan bahwa kurban milik Habilah yang diterima disisi Allah SWT dan berhak menikahi saudara Qabil yang memiliki perangai cantik.


Lalu dengan penuh rasa iri, dengki dan amarah Qabil berkata “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu” hal tersebut dilakukan agar Habil tidak bisa mengawini saudaranya yang cantik tersebut, habil pun menjawab “Sesungguhnya allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa” sehingga semakin marahlah Qabil terhadap Habil.


Kemudian dalam ayat selanjutnya Al-Ma'idah 5:28


لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ 


”Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”


Melalui ayat ini Habil berkata kepada Qabil yang kurbannya diterima disisi Allah SWT, bahwa dia tidak akan membalas perbuatan jahat saudaranya dengan kejahatan semisal karena takut kepada allah swt.


padahal Habil memiliki tubuh yang lebih kuat daripada Qabil, tetapi dia tercegah oleh perasaan takut berdosa apabila membunuh saudaranya.


dalam sebuah hadits dari Abi Bakrah, Rasulullah saw, bersabda, "Jika dua orang Muslim berkelahi masing-masing dengan pedangnya kemudian yang seorang membunuh yang lain, maka keduanya baik yang membunuh maupun yang dibunuh masuk neraka. Kepada Rasulullah ditanyakan: "Yang membunuh ini telah jelas (hukumnya) tetapi bagaimana yang dibunuh? Dijawab oleh Nabi "(Masuk neraka pula)" Karena dia pun berusaha keras untuk membunuh temannya." (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, al-Baihaqi dan al-hakim).


lalu dalam ayat selanjutnya (Al-Ma'idah 5:29) Habil berkata kepada Qabil 


إِنِّىٓ أُرِيدُ أَن تَبُوٓأَ بِإِثْمِى وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُا۟ ٱلظَّٰلِمِينَ 


”Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zalim.”


Habil akan berserah diri kepada Allah SWT dan tidak mau menantang Qabil agar semua dosanya terlimpahkan kepada Qabil, jika dia hendak melakukan pembunuhan.


dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa "Sesungguhnya manusia yang paling celaka ialah anak Adam yang membunuh saudaranya (yakni Qabil), tiada setetes darah pun yang dialirkan di bumi ini sejak dia membunuh saudaranya sampai hari kiamat, melainkan ia kebagian dari siksaannya. Demikian itu karena dialah orang yang mula-mula melakukan pembunuhan."


Tiga poin penting dalam pernyataan Habil adalah :

  1. Amalan yang diterima oleh Allah SWT adalah dari orang yang bertaqwa dan ikhlas.

  2. Habil tidak mau membunuh orang karena takut kepada Allah SWT.

  3. Habil tidak melawan karena takut berdosa yang mengakibatkannya masuk neraka.


Kemudian dalam ayat selanjutnya, Al-Ma'idah 5:30


فَطَوَّعَتْ لَهُۥ نَفْسُهُۥ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُۥ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ 


“Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi.”


tanpa memperdulikan nasehat yang diberikan oleh Habil kepada Qabil, Qabil pun terbawa oleh  hawa nafsu untuk membunuh Habil.


Qabil mencari - cari saudaranya sampai menemukannya di pegunungan, saat itu kondisi Habil sedang tertidur, tanpa berpikir panjang, qabil pun mengambil sebuah batu besar lalu ditimpakan batu tersebut di atas kepala Habil sampai Habilpun meninggal dunia.


Setelah membunuh jasad Habil pun dibiarkan oleh Qabil, namun perasaannya tidak senang melihat jenazah saudaranya tergeletak begitu saja di tanah, dengan penuh kebingungan terhadap apa yang harus diperbuat terhadap mayat saudaranya tersebut, hal ini terjadi karena ini adalah pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia.


Bahkan dalam riwayat yang lain, Qabil memikul jenazah saudaranya sampai 100 tahun lamanya, tanpa tahu apa yang harus diperbuat terhadap mayat saudaranya, sampai - sampai hewan - hewan pun sudah menunggu untuk memakan mayat saudaranya tersebut.


Ditunjukkanlah oleh Allah melalui gagak bagaimana cara mengubur mayat saudaranya dalam Surat Al-Maidah 5:31


فَبَعَثَ ٱللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِى ٱلْأَرْضِ لِيُرِيَهُۥ كَيْفَ يُوَٰرِى سَوْءَةَ أَخِيهِۚ قَالَ يَٰوَيْلَتَىٰٓ أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا ٱلْغُرَابِ فَأُوَٰرِىَ سَوْءَةَ أَخِىۖ فَأَصْبَحَ مِنَ ٱلنَّٰدِمِينَ 


“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.”


Kemudian Allah mengutus dua ekor gagak bersaudara, sehingga salah satu diantaranya mati, lalu burung gagak tersebut mengorek - ngorek tanah dengan cakarnya untuk memperlihatkan kepada Qabil cara mengubur mayat saudaranya tersebut.


Setelah Qabil menyaksikan bagaimana cara burung gagak mengubur saudara gaganya yang mati, mengertilah dia atas apa yang harus dilakukannya terhadap mayat saudaranya.


Pada waktu itu qabil merasakan kebodohannya, mengapa ia tidak berbuat seperti burung gagak itu, dengan penuh rasa menyesal atas perbuatannya, sampai Qabil pun berkata “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” 


Penyesalan yang didapatkan oleh qabil adalah sebuah kerugian meliputi dunia dan akhirat, didunia dia telah membunuh saudaranya yang shaleh dan bertaqwa, lalu diakhirat akan masuk kedalam neraka dengan menanggung dosa pembunuhan pertama, sehingga semua dosa pembunuhan oleh manusia terlimpahkan pula dosanya kepada Qabil atas apa yang dilakukannya.


Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: “Tidak ada suatu dosa pun yang lebih layak disegerakan siksaan-nya oleh Allah di dunia berikut siksaan di akhirat yang telah disediakan oleh Allah buat pelakunya selain dari bagyu (pem­bunuhan) dan memutuskan tali silaturahmi.” 


wallahu ‘alam bishowab


Al-Ma'idah 5:32


مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًاۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ 


“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”




Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Cara Mendatangkan Traffic untuk Bisnis Online

Bagaimana Caranya Menjadi Seorang Dropshiper?